perkembangan intelektual dan bahasa remaja

Makalah
Perkembangan intelektual dan Bahasa Remaja

 

Kata Pengantar

Selain mengalami perkembangan fisik, seksual dan sosial pada masa ini remaja juga mengalami perkembangan pemikiran, pemikiran remaja berubah menjadi lebih abstrak, logis dan idealis. Artinya remaja tidak akan percaya begitu saja terhadap apa yang dikatakan oleh orang tua tanpa tahu sebab dan alasan, remaja mulai berfikir layaknya para intelektual dimana semua serba rasional, dan remaja juga mulai berfikir tentang citra diri mereka. Pemikiran remaja lebih bersifat egosentris (Santrock, 1995).Dimana remaja mempunyai keyakinan bahwa orang lain akan memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dirinya sendiri.

Bahasa merupakan untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10).

Bersamaan dengan kehidupannya dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengikuti proses belajar di sekolah. Sebagaimana diketahui dilembaga pendidikan bahasa diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata,namun juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk didalamya perilaku berbahasa.

Daftar Isi

  • Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Pendahuluan
  • Pembahasan
  • Penutup
  • Daftar Pusataka

Pendahuluan

Pengaruh pergaulan dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang didalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok tertentu yang bentuknya amat khusus (bahasa prokem).

Perkembangan bahasa anak dilengkapi dan piperkaya oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Bersamaan dengan kehidupannya dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengikuti proses belajar di sekolah.

Masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya

Remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau menerima begitu saja perintah-perintah atau aturan-aturan yang ada; mereka ingin juga mengetahui alasan dan sebab-sebabnya. Tidak jarang dengan perkembangan intelektualnya yang bersifat kritis ini, remaja mengalami konflik atau pertentangan dengan pihak orang tua atau pendidik-pendidik yang biasanya berpegang akan nilai-nilai lama (Mulyono, 1995). Piaget menyebutnya dengan operasional formal. Piaget yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara 11 – 15 (Santrock, 1995).

Pembahasan

Pengertian intelektual

Istilah intelek berasal dari bahasa Inggris intellect yang menurut Chaplin (1981) diartikan sebagai :

1.         Proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan
menilai, dan kemampuan mempertimbangkan;

2.          Kemampuan mental atau itelegensi.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelek tidak berbeda dengan pengertian inteligensi yang memiliki arti kemampuan untuk melakukan abstraksi,serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru.

Piaget membangi empat tahapan perkembangan intelektual/ kognitif, yaitu (1) tahap sensori motoris, (2) tahap praoperasional, (3) tahap operasional konkret dan (4) tahap operasional formal. Setiap tahapan memiliki karakteristik tersendiri sebagai perwujudan kemampuan intelek individu sesuai dengan tahap perkembangannya.

Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan intelek tersebut adalah sebagai berikut :

Karakteristik Tahap Sensori-Motoris

Tahap sensori-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)        Segala tindakannya masih bersifat naluriah

b)        Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indra

c)        Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk    mengategorikan pengalaman

d)       Individu mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori-motorisnya.

Sebagai upaya lebih memperjelas karakteristik tahap sensori-motoris ini, Piaget  merinci lagi tahap sensori-motoris ke dalam enam fase dan setiap fase memiliki karakteristik tersendiri.

a.    Fase pertama (0-1 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mampu bereaksi secara refleks

b)        Individu mampu menggerak-gerakkan anggota badan meskipun belum terkoordinir

c)         Individu mampu mengasimilasi dan mengakomodasikan berbagai pesan yang diterima dari lingkungannya.

b.    Fase kedua (1-4 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mampu memperluas skema yang dimilikinya berdasarkan hereditas

c.    Fase ketiga (4-8 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mulai dapat memahami hubungan antara perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu.

d.   Fase keempat (8-12 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mampu memahami bahwa benda tetap ada meskipun untuk sementara waktu hilang dan akan muncul lagi di waktu lain.

b)        Individu mulai mampu mencoba sesuatu

c)         Individu mampu menentukan tujuan kegiatan tanpa tergantung kepada orangtua
e.    Fase kelima (12-18 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a) Individu mulai mampu untuk meniru

b) Individu mampu untuk melakukan berbagai percobaan terhadap lingkungannya secara lebih lancar

f.     Fase keenam (18-24 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mulai mampu untuk mengingat dan berpikir

b)        Individu mampu untuk berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bahasa sederhana

c)         Individu mampu berpikir untuk memecahkan masalah sederhana sesuai dengan tingkat perkembangannya

d)        Individu mampu memahami diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang

2. Karakteristik Tahap Praoperasional

Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)      Individu telah mengkombinasikan dan mentrasformasikan berbagai informasi

b)     Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide

c)      Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat

d)     Cara berpikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku :
1) berpikir imajinatif

2) berbahasa egosentris

3) memiliki aku yang tinggi

4) menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi dan

5) perkembangan bahasa mulai pesat.
3. Karakteristik Tahap Operasional Konkret

Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis. Dalam memahami konsep, individu sangat terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya, mudah memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.

4. Karakteristik Tahap Operasional Formal

Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)      Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi

b)      Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak

c)      Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis

d)     Individu bahkan mulai mampu membuat perkiraan (forecasting) di masa depan

e)      Individu mulai mampu untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai

f)       Individu mulai mampu membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa

g)      Individu mulai mampu untuk menyadari diri mempertahankan kepentingan masyarakat di lingkungannya dan seseorang dalam masyarakat tersebut.

Piaget membangi empat tahapan perkembangan intelektual/ kognitif, yaitu (1) tahap sensori motoris, (2) tahap praoperasional, (3) tahap operasional konkret dan (4) tahap operasional formal. Setiap tahapan memiliki karakteristik tersendiri sebagai perwujudan kemampuan intelek individu sesuai dengan tahap perkembangannya.

Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan intelek tersebut adalah sebagai berikut :

1.Karakteristik Tahap Sensori-Motoris

Tahap sensori-motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)        Segala tindakannya masih bersifat naluriah

b)        Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indra

c)        Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk    mengategorikan pengalaman

d)       Individu mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori-motorisnya.

Sebagai upaya lebih memperjelas karakteristik tahap sensori-motoris ini, Piaget  merinci lagi tahap sensori-motoris ke dalam enam fase dan setiap fase memiliki karakteristik tersendiri.

a.    Fase pertama (0-1 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mampu bereaksi secara refleks

b)        Individu mampu menggerak-gerakkan anggota badan meskipun belum terkoordinir

c)         Individu mampu mengasimilasi dan mengakomodasikan berbagai pesan yang diterima dari lingkungannya.

b.    Fase kedua (1-4 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mampu memperluas skema yang dimilikinya berdasarkan hereditas

c.    Fase ketiga (4-8 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mulai dapat memahami hubungan antara perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu.

d.   Fase keempat (8-12 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mampu memahami bahwa benda tetap ada meskipun untuk sementara waktu hilang dan akan muncul lagi di waktu lain.

b)        Individu mulai mampu mencoba sesuatu

c)         Individu mampu menentukan tujuan kegiatan tanpa tergantung kepada orangtua
e.    Fase kelima (12-18 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a) Individu mulai mampu untuk meniru

b) Individu mampu untuk melakukan berbagai percobaan terhadap lingkungannya secara lebih lancar

f.     Fase keenam (18-24 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut :

a)         Individu mulai mampu untuk mengingat dan berpikir

b)        Individu mampu untuk berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bahasa sederhana

c)         Individu mampu berpikir untuk memecahkan masalah sederhana sesuai dengan tingkat perkembangannya

d)        Individu mampu memahami diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang

2. Karakteristik Tahap Praoperasional

Tahap praoperasional ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)      Individu telah mengkombinasikan dan mentrasformasikan berbagai informasi

b)     Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide

c)      Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat

d)     Cara berpikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku :
1) berpikir imajinatif

2) berbahasa egosentris

3) memiliki aku yang tinggi

4) menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi dan

5) perkembangan bahasa mulai pesat.
3. Karakteristik Tahap Operasional Konkret

Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis. Dalam memahami konsep, individu sangat terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya, mudah memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut.

4. Karakteristik Tahap Operasional Formal

Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :

a)      Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi

b)      Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak

c)      Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis

d)     Individu bahkan mulai mampu membuat perkiraan (forecasting) di masa depan

e)      Individu mulai mampu untuk mengintrospeksi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai

f)       Individu mulai mampu membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa

g)      Individu mulai mampu untuk menyadari diri mempertahankan kepentingan masyarakat di lingkungannya dan seseorang dalam masyarakat tersebut.

CIRI BAHASA REMAJA

Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti ‘permainan diganti degan mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif.

3.2 PERAN BAHASA REMAJA

Dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesame sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal dengan bahasa “gaul”. Disamping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya.

Kita semua secara sadar maupun tidak sadar pernah mengamati bagaimana kaum remaja menjawab pertanyaan yang diberikan oleh para orang lain mengenai sebuah acara remaja. Kira-kira beginilah :

1) “Emm, pokoknya acara asyik banget, band-band yang tampil keren banget, musiknya OK, ya pokoknya te-o-pe deh!”

2) “Gila, acaranya keren banget gitu, lho! Aduh pokoknya keren deh… Pokoknya yang nggak dateng nyesel aja!!”

3) “Wah, pokoknya gua salut lah sama panitianya. Acaranya keren abis, booo!!”

Lalu bagaimana kalau dimintai komentar, misalnya tentang seorang artis favoritnya, katakanlah Jennifer Lopez?

1. “Wah Jennifer Lopez itu top banget, gitu lho! Bodinya seksi, suaranya bagus, cantik banget, aduh pokoknya keren deh!”

2. “Iya, gua demen banget sama J-Lo. Dia tuh udah seksi, jago nyanyi, udah gitu jago nge-dance lagi! Wah, tipe gua banget, tuh!”

3. “Gua suka J-Lo…. karena apa ya? Ya karena dia keren aja, gitu!!!”

Dengan kondisi seperti ini, wajarlah kiranya jika para siswa sekolah jauh lebih memilih mengerjakan soal-soal pilihan ganda daripada esai. Masalahnya jelas : mereka tidak mampu menyampaikan maksudnya dengan baik ; dengan cukup jernih sehingga bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau cuma sekedar bilang “si A keren”, “acara ini bagus”, “desainnya ciamik” dan sebagainya, siapa pun bisa melakukannya. Tapi tidak ada yang mengerti maksud pembicaraannya sebenarnya. Keren seperti apa? Mengapa ia dibilang keren? Apa yang membuatnya merasa ia lebih keren daripada yang lain? Tidak ada secuil pun informasi!

Selain itu ada beberapa contoh kalimat yang sering kita dengar dalm kehidupan sehari-hari.

“Kamu anak baru, ya?”

‘Iya.”

“Jurusan apa?”

“Komunikasi.”

“Pantesan cantik.”

“Makasih.”

“Eh, mau ini?”

“Apa tuh? Obat, ya?”

“Iya, kalau mau ambil aja.”

Gaya berbahasa berkaitan erat dengan bahan bacaannya. Kalau yang dibaca remaja selalu masalah-masalah percintaan yang beraliran gombalisme, maka tidak heran jika pikiran mereka pun tidak terbiasa dengan hal-hal lain yang sebenarnya sangat penting. Jika pikirannya hanya disibukkan oleh hal-hal semacam itu, maka jangan heran jika mereka cenderung menghindar dari pembicaraan-pembicaraan serius (dan tentu juga tulisan-tulisan yang serius).

Bahasa remaja yang digunakan oleh kalangan remaja saja. Penggunaan bahasa remaja ini memiliki fungsi yang strategis bagi kehidupan mereka. Dengan menggunakan bahasa remaja, mereka merasa sebagai orang yang bisa dan masuk dalam komunitas mereka.

Dalam kesehariaanya, bahasa remaja dugunakan sebagai penghubung antarmereka. Dengan bahasa remaja yang sifatnya dinamis, remaja merasa memiliki kebebasan untuk mengepresikan kehidupan mereka.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN  INTELEKTUAL

Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi atau kemampuan berpikir remaja, ada yang berpandangan bahwa suatu kekeliruan jika IQ dianggap bisa ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor lingkungan. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek, antara lain bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak seseorang sehingga mampu berpikir refleksif, banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah, dan adanya perbedaan berpikir yang menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, serta menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.

Mengenai konstan tidaknya intelegensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa intelegensi itu sama sekali tidak sekonstan yang diduga sebelumnya. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Institut Fels menunjukkan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butir antara usia 5 dan 17 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau dipekerjaan.

Menurut hasil penelitian Piaget, ada 4 faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan intelektual (mental) anak, yaitu:
1. Kematangan (maturation). Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan proses perubahan fisiologis dan anatomis akan mempengaruhi perkembangan kognitif. Faktor kedewasaan atau kematangan ini berpengaruh pada perkembangan intelektual tapi belum cukup menerangkan perkembangan intelektual.

2. Pengalaman Fisik (Physical Experience). Pengalaman fisik terjadi karena anak berinteraksi dengan lingkungannya. Tindakan fisik ini memungkinkan anak dapat mengembangkan aktivitas dan gaya otak sehingga mampu mentransfernya dalam bentuk gagasan atau ide. Dari pengalaman fisik yang diperoleh anak dapat dikembangkan menjadi matematika logika. Dari kegiatan meraba, memegang, melihat, berkembang menjadi kegiatan berbicara, membaca dan menghitung.

3. Pengalaman Sosial (Social Experience). Pengalaman sosial diperoleh anak melalui interaksi sosial dalam bentuk pertukaran pendapat dengan orang lain, percakapan dengan teman, perintah yang diberikan, membaca, atau bentuk lainnya. Dengan cara berinteraksi dengan orang lain, lambat laun sifat egosentris berkurang. Ia sadar bahwa gejala dapat didekati atau dimengerti dengan berbagai cara. Melalui kegiatan diskusi anak akan dapat memperoleh pengalaman mental. Dengan pengalaman mental inilah memungkinkan otak bekerja dan mengembangkan cara-cara baru untuk memecahkan persoalan. Di samping itu pengalaman sosial dijadikan landasan untuk mengembangkan konsep-konsep mental seperti kerendahan hati, kejujuran, etika, moral, dan sebagainya.
4. Keseimbangan (Equilibration). Keseimbangan merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat fungsi kognitif yang semakin tinggi. Keseimbangan dapat dicapai melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi menyangkut pemasukan informasi dari luar (lingkungan) dan menggabungkannya dalam bagan konsep yang sudah ada padaotak anak. Akomodasi menyangkut modifikasi bagan konsep untuk menerima bahan dan informasi baru.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI  PENGGUNAAN  BAHASA REMAJA

Menurut Piaaget (dalam Papalia, 2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya.

Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks. Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphor, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul.

Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja. Menurut Erikson (1968), remajamemasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominant terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak.

Bahasa remaja atau yang dikenal bahasa gaul, berkembang melalui tayangan berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Media-media tersebut menyebarkan berbagai program remaja yang kecendrungannya menggunakan bahasa remaja sebagai pengantarnya.

Di dalam tayangan televis, program yang ditayangkan, seperti sinetron remaja menggunakan bahasa remaja. Melalui media ini, informasi mengenai bhasa remaja yang ada di kota Jakarta, dapat menyebar sampai ke pelosok-pelosok desa. Dengan perkembangan teknologi informasi yang luas, bahasa remaja tidak hanya terbatas pada kalangan masyarakat khususnya remaja di daerah perkotaan.

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Penutup

Ikhtiar pendidikan, khususnya melalui proses pembelajaran, guru mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik adalah kesadaran pendidik terhadap kemampuan intelektual setiap peserta didik harus dipupuk dan dikembangkan agar potensi yang dimiliki setiap individu terwujud sesuai dengan perbedaan masing-masing. Menurut Conny Semiawan (1984), penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan intelektual anak yang di dalamnya menyangkut keamanan psikologis dan kebebasan psikologis merupakan faktor yang sangat penting.

Banyak factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa. Bahasa remaja berkembang karena luasnya media informasi yang beredar di masyarakat. Masyarakat kita khususnya remaja, menggunakan bahasa gaul atau bahasa remaja ini hanya untuk kalangan mereka. Penggunaan ini bertujuan untuk menyatakan bahwa kehadiran mereka memang ada dalam komunitas remaja.

Kita sebagai masyarakat bahasa, tidak mungkin bisa mengenyampingkan kehadiran bahasa remaja di masyarakat. Kita hanya mampu mengusahakan perkembangan bahasa remaja ini ke arah yang positif.

 

Daftar  Pustaka

Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, (Yogyakarta:Kanisius, 1995).
John W. Santrock, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, (Jakarta:Erlangga, 1995).

I WAYAN PARIAWAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA

http://fariz-rifai.blogspot.com/2012/03/perkembangan-intelektual-remaja.html

http://suluhpendidikan.blogspot.com/2008/12/perkembangan-bahasa-remaja.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s